Female — 08 March 2012
9 Aturan Pernikahan yang Boleh (Harus) Dilanggar

Menjalani hari-hari sebagai pengantin baru berjuta rasanya. Semuanya tanpa cela dan membahagiakan. Apalagi yang sempat menjalani bulan madu, hmm serasa dunia milik berdua, itu bukan hanya kiasan. Melakukan segala hal berdua, menghabiskan malam berduaan di tempat tidur nan empuk, dan tentunya tak pernah bosan. Iya, kan?

Sekarang, kembali pada beberapa waktu sebelum menikah, pernahkah Anda diberi nasihat atau diberi tahu beberapa hal mengenai pernikahan oleh orang-orang terdekat — katakanlah orangtua Anda? Hati-hati, jangan sampai nasihat yang Anda terima malah kuno dan tak lagi berlaku.

“Melanggar aturan pernikahan mungkin satu hal terbaik yang bisa Anda lakukan,” ujar Barbara Bartlein, RN, MSW, psikoterapis sekaligus penulis buku Why Did I Marry You Anyway?. Kalau tak percaya, coba tengok 9 aturan yang boleh dilanggar di bawah ini.

1. Jangan pernah tidur dalam keadaan marah
Percuma menyelesaikan masalah saat lelah dan stres. Setidaknya itu menurut Elizabeth Lombardo, PhD. Kata psikolog dan penulis A Happy You: Your Ultimate Prescription for Happiness, “Setujulah untuk tidak sepakat saat ini, dan kembali lagi pada masalah itu setelah menyempatkan diri beristirahat.” Dijamin, hasilnya lebih baik.

2. Senantiasa jujur 100 persen
Dalam pernikahan, kejujuran “telanjang” tidak selalu menjadi kebijakan terbaik. Misalnya, “Anda tidak harus berbagi detail hubungan masa lalu,” terang Barbara. “Nantinya mengundang perbandingan. Dan kalau Anda membanding-bandingkan, selalu ada yang lebih buruk.” Intinya, Anda perlu waspada dan menjaga perasaan pasangan sepenuh hati.

3. Jangan pernah berlibur tanpa pasangan
Bagus sih punya waktu liburan dan menghabiskannya berdua dengan pasangan. Satu masalah dengan aturan ini, Anda dan pasangan mungkin saja tak punya definisi yang sama tentang liburan seru. Misalnya Anda suka pegunungan, eh si dia malah senangnya ke pantai. Bahaya lainnya menurut Dr Elizabeth, keyakinan Anda harus selalu menjadi segalanya bagi si dia, demikian sebaliknya. “Ini tidak nyata, serasa di awang-awang,” tegas Dr Elizabeth. Tak ada salahnya sesekali Anda menikmati perawatan di spa, sedangkan pasangan memilih naik gunung dengan teman-temannya. Yakinlah, Anda tak harus selalu bersamanya.

4. Bertengkar mengarah pada perceraian
Riset menunjukkan, pasangan yang tidak pernah bertengkar –asumsinya mereka memilih menghindari konflik—malah punya kecenderungan untuk berpisah. Anda harus mencari cara untuk bertengkar secara sehat dan produktif (tanpa saling menyalahkan, meneriaki, dan sejenisnya). Barbara menambahkan, “Berkomitmen untuk menghargai opini pasangan saat menyuarakan pendapat dalam konflik menjadi aturan yang jauh lebih baik ketimbang menutup mulut.”

5. Begitu punya anak, merekalah prioritas nomor satu
“Seringnya saya melihat pasangan menomorduakan hubungan (sebagai suami-istri) agar bisa menjadi orangtua yang baik,” sesal Dr Elizabeth. Menomorsatukan hubungan (Anda dan pasangan) itu lebih baik — bukan hanya bagi Anda berdua tapi juga untuk anak-anak yang butuh melihat kedua orangtuanya pegang kendali serta merasa aman dan terlindung memiliki orangtua yang saling menyayangi. “Ciptakan waktu hanya untuk pasangan, saat Anda tak perlu membicarakan tentang tagihan atau anak-anak, tapi melakukan aktivitas yang menyenangkan dan menikmati kebersamaan.” Anak-anak akan baik-baik saja kok.

6. Tak seharusnya tidur di kamar terpisah
Mm, bagaimana kalau pasangan Anda tidurnya ngorok? Malah Anda tak bisa tidur! Ada mitos menyatakan, pasangan lebih baik dan lebih lelap tidur berdua daripada tidur terpisah. Padahal tidak selalu. Sebagian orang mungkin tak bisa jauh atau terpisah dari pasangannya. Tapi ada lagi yang tak bisa tidur karena pasangannya memilih tidur dengan lampu menyala. Makanya, boleh-boleh saja kok tidur terpisah. Tak perlu membesar-besarkan masalah. “Tidur malam dengan nyenyak itu penting bagi kesehatan mental, fisik, dan kesehatan pernikahan Anda,” tegas Dr Elizabeth. Asal pastikan kebiasaan tidur terpisah bukan dengan maksud menghindari yang intim-intim dengan pasangan.

7. Sudah semestinya menyesuaikan hobi dengan pasangan
Setiap kali punya waktu luang Anda selalu berlatih maraton, sementara pasangan asyik mengotak-atik mobil klasiknya; ini mungkin kebiasaan yang tidak bagus bagi pernikahan Anda. Tapi bukan berarti Anda berhenti melakukan hal-hal yang Anda sukai dan beralih menemani pasangan saat menjalankan hobinya. Melepaskan sesuatu yang bikin Anda bergairah sama saja melepaskan kemandirian. “Tanpa kemandirian dalam pernikahan, pasangan akan merasa terjebak (dalam pernikahan),” jelas Barbara. Jalani minat Anda dan temukan aktivitas yang bisa Anda nikmati berdua.

8. Kalau tak ada lagi “percikan”, habislah sudah
Banyak pasangan menikah memahami, jatuh cinta berjuta rasanya itu tak abadi. “Tapi sebagian lainnya meyakini, begitu hilang percikan rasa, artinya sama dengan hubungan yang salah dan mencari (hubungan) yang baru,” cetus Barbara. Hubungan jangka panjang bisa bertahan dengan komitmen dan rasa saling percaya, dan ini tak ada hubungannya dengan cinta. Keyakinan Anda bisa bersama selamanya jika ada percikan asmara atau rasa cinta terus-menerus, ini yang keliru.

9. Kebosanan itu buruk
Masalah yang timbul dengan aturan yang ini, perasaan tenang yang mudah diramalkan (baca: rutinitas yang sama dengan rasa bosan) adalah pertanda buruk. Hubungan yang penuh drama mungkin menyenangkan, tapi jangka panjangnya tidak sehat juga. Siapa tahan dengan pasangan yang bertipe drama queen misalnya. Kan lebih baik tahu di mana pasangan berada setiap malam (membosankan) ketimbang senang karena hubungan Anda bak roller coaster? “Lebih baik punya kehidupan ‘membosankan’ setiap hari, rasanya nyaman dan relaks. Dengan begitu Anda bisa menyuntikkan kesenangan dengan liburan dan beragam aktivitas lain,” pungkas Barbara. [Source: Tabloid Bintang]

kurus

Referensi:

mitos anak pertama menikah dengan anak kedua, mitos anak pertama menikah dengan anak terakhir, mitos pernikahan anak 1 dan 3, mitos anak pertama dan ketiga tidak boleh menikah, pernikahan anak pertama dengan anak ketiga, Anak pertama menikah dengan anak ketiga, mitos anak pertama menikah dengan anak pertama, mitos pernikahan anak pertama dan ketiga, pernikahan anak pertama dan ketiga, mitos jodoh anak pertama dan terakhir, anak pertama dan anak terakhir menikah, mitos anak pertama, anak pertama menikah dengan anak kedua, anak pertama menikah dengan anak terakhir, mitos anak terakhir menikah dengan anak terakhir, jodoh anak pertama dengan anak ketiga, mitos anak pertama nikah sama anak pertama, mitos anak pertama menikah dengan anak ketiga, anak pertama menikah dengan anak pertama, pernikahan anak 1 dan 3, pernikahan anak pertama dengan anak pertama

Related Articles

Share

About Author

(0) Readers Comments

Leave a Reply